Pandangan Masyarakat Islam di Desa Tegalsari, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang terhadap Kesenian Sintren

Zuliatun Ni’mah

Abstract


Abstrak: penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan: (1) bentuk penyajian kesenian Sintren (2) fungsi kesenian Sintren (3) pandangan masyarakat Islam terhadap kesenian Sintren. Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah informan 22 orang. Data dari penelitian ini berupa wawancara dari informan. Instrumen penelitian adalah peneliti sendiri (participant observer). Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara mendalam, teknik observasi non partisipasi, dan teknik dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data model interaktif. Teknik penyajian data menggunakan teknik informal. Hasil penelitian menunjukkan (1) Bentuk penyajian kesenian Sintren meliputi: pelaku (Panjak 7, Pengrawit 5, Plandang atau Cantrik 2, Pawang 1, Bador 1,dan Sintren 1, gerak (kepala melenggak-lenggok, kaki berjingkat-jingkat, pinggul bergoyang), iringan (kendang, gambang, demung dan gong) dan tembang (Sulasih-Sulandono,turun-turun Sintren, dan campursari) busana (bebas) dan tata rias (cantik), tempat (di atas panggung) dan waktu pertunjukan (malam hari), properti (1 kurungan ayam), penonton (bervariasi), dan urutan penyajian. (2) fungsi pertunjukan meliputi: Untuk mengungkapkan keindahan, sebagai hiburan, sebagai pemanggil kekuatan supranatural (Gaib), dan sebagai pelestarian budaya. (3) Pandangan masyarakat Islam terhadap kesenian Sintren ini perlu dilestarikan asalkan tidak bertentangan dengan agama Islam. Mengenai kesurupan penari Sintren dalam kesenian Sintren agama Islam tidak memperbolehkan karena itu sama saja mengundang jin dan termasuk syirik.
Kata Kunci: Kesenian Sintren

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.



Lisensi Creative Commons
Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional.